Sabtu, 25 Februari 2017

cinta bahasa indonesia



CINTA BAHASA INDONESIA

A.    Penyebab Rusaknya Bahasa Indonesia

Bahasa merupakan simbol khas dari suatu negara ataupun wilayah, karena bahasa merupakan unsur vital dalam berkomunikasi atau sebagai alat komunikasi paling utama. Dalam melakukan interaksi, hubungan sosial dengan sesama di masyarakat, setiap orang butuh bahasa. Bahasa sangat beragam di dunia ini, karena setiap negara mepunyai bahasa masing-masing yang berbeda satu sama lain, bahkan bahasa dapat membedakan antara negara yang satu dengan negara yang lain. Negara Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa umum atau utama dalam bernegara, berbeda dengan negara Amerika yang menggunakan bahasa Inggris dalam bernegara. Jadi, bahasa juga dapat menjadi ciri dari suatu negara.
Setiap manusia harus mengetahui apa arti dari bahasa itu sendiri dan pengaruh bahasa bagi kita. Dalam arti yang sangat singkat, bahasa adalah alat atau sarana untuk berkomunikasi. Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
Dimana pelaku/pengguna bahasa adalah kita sendiri dan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Beralih ke penggunaan bahasa di setiap bangsa atau negara, bahasa mengambil peran yang sangat penting dan merupakan identitas suatu bangsa. Seperti di negara kita, Indonesia mempunyai banyak bahasa, yang semakin memperjelas identitas negara kita dengan negara lain, tetapi bahasa yang dapat menyatukan masyarakat Indonesia sendiri dan telah di akui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah bahasa Indonesia. Sebagai bahasa nasional dan juga sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia wajib digunakan dalam segala kegiatan resmi kenegaraan.
Demikian pula di semua jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar. Hal itu dimaksudkan agar bahasa Indonesia dapat berkembang secara wajar di tengah masyarakat pemakainya. Selain itu, upaya tersebut diharapkan pula dapat menjadi perekat persatuan suku yang ribuan jumlahnya ini menjadi satu bangsa yang besar yakni, bangsa Indonesia. Kecenderungan mengunggulkan identitas asing akhir-akhir ini telah menjadi-jadi, tidak terkecuali bahasa. Hampir setiap gedung-gedung megah di Indonesia, terpampang tulisan-tulisan asing sebagai lambang kemodernan, sedangkan pemakai bahasa Indonesia dianggap kampungan atau tidak keren dan telah ketinggalan zaman. Sikap yang demikian ini tentu akan melunturkan citra dan identitas bangsa dan rusaknya bahasa Indonesia.
 Sepanjang sejarah bahasa Indonesia selalu mengalami perkembangan. Dalam perkembangannya bahasa Indonesia tidak menampik kenyataan terhadap masuknya bahasa lain. Justru bahasa-bahasa yang masuk itu dapat memperkaya bahasa Indonesia terutama dari segi perbendaharaan kata. Sungguhpun bahasa Indonesia diperkaya oleh bahasa lain, tetapi tidak sampai pada struktur bahasa secara keseluruhan. Karena itu, bahasa Indonesia tetap dapat menunjukkan jati dirinya. Kenyataan memang tidak dapat dipungkiri. Kendati telah ditetapkan aturan baku tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (formal), tetapi aturan tersebut masih diingkari oleh sebagian masyarakat kita. Bahkan, gejala merendahkan bahasa sendiri semakin nyata.
Hal ini dapat kita lihat dari perilaku berbahasa masyarakat kita dewasa ini. Sikap bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia cenderung ambivalen, sehingga terjadi dilematis. Artinya, di satu pihak kita menginginkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan dapat mengikuti perkembangan zaman serta mampu merekam ilmu pengetahuan dan teknologi global, tetapi di pihak lain kita telah melunturkan identitas dan citra diri itu dengan lebih banyak mengapresiasi bahasa asing sebagai lambang kemodernan. Atas dasar itu, tidak heran jika para remaja masa kini lebih cenderung menggunakan bahasa asing atau bahasa gaul sebagai bagian dari hidupnya jika mereka tidak ingin disebut ketinggalan zaman.
Saat ini kita hidup di zaman yang sudah berubah. Kehadiran internet telah merevolusi perilaku manusia. Teknologi digital dan media sosial telah mengubah pola komunikasi dan interaksi sosial kita. Salah satu fenomena memprihatinkan sehubungan dengan perkembangan teknologi di zaman kita ialah memburuknya perilaku dan cara berbahasa orang-orang di media internet.

Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah pemakaian bahasa yang sesuai dengan fungsi dan ciri kode bahasa Indonesia baku. saat ini sudah semakin sulit ditemukan generasi muda bangsa Indonesia yang bangga dan mencintai bahasa Indonesia. Dalam artian, generasi yang mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi tren yang mengarah pada kerusakan bahasa ini pada awalnya terjadi seiring dengan semakin populernya penggunaan layanan pesan singkat (SMS) melalui perangkat telepon genggam serta ruang-ruang obrolan di internet, yang kemudian berlanjut sejalan dengan merebaknya situs-situs pertemanan seperti yang ada sekarang ini.
Kecenderungan ini umumnya terjadi di kalangan remaja dan kini bahkan telah meluas hingga kalangan dewasa. Sebagai contoh, dewasa ini banyak bermunculan ragam-ragam bahasa yang secara eksplisit bertentangan dengan kaidah-kaidah ketatabahasaan Bahasa Indonesia. penyebab lainnya yaitu :
1.      Kekacauan bahasa tersebut terjadi melalui penyingkatan tulisan tanpa aturan serta keisengan untuk memelesetkan kata-kata seperti pada beberapa contoh di bawah ini.
-       Kata aku menjadi q, qu, w, wa, gw.
-       Kata kamu menjadi lo, u.
-       Kata saja menjadi ja, ajj.
-       Kata siapa menjadi sppa, cppa, cpa, spa.
-       Kata lagi menjadi ghiy, ghiey, gi.
-       Kata manis menjadi manies, maniezt.
-       Kata demi apa menjadi miapah.
-       Kata terima kasih menjadi macacih.
Akhiran -nya yang secara keseluruhan diganti dengan huruf x, atau salah satu hurufnya dihilangkan atau diganti dengan tanda titik atau tanda petik tunggal. Misalnya, kata miliknya menjadi milikx, milikna, milik.a, milik’a.
Kata secara yang dalam suatu kalimat seharusnya berarti sebagai, menurut atau dengan cara, dipelesetkan menjadi seolah-olah berfungsi sebagai kata penghubung yang menyatakan suatu alasan atau kendala layaknya kata karena atau sebab. Misalnya, Saya tidak dapat hadir pada pesta pernikahanmu, secara saya tidak mendapat izin cuti dari tempat saya bekerja.

2.      Memudarnya eksistensi atau kesaktian dari Bahasa Indonesia
Memudarnya eksistensi atau kesaktian dari Bahasa Indonesia disebabkan oleh memudarnya kemampuan menulis. Semakin hari tingkat kemampuan menulis, khususnya di kalangan akademisi, sangat memprihatinkan. Tidak jarang ditemukan akademisi yang belum bisa berbahasa dan menulis sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sejatinya, untuk hidup di zaman sekarang dan nanti, ada tiga kemampuan yang mesti dimiliki oleh setiap orang, yaitu kemampuan berbahasa, kemampuan menulis, dan kemampuan berbicara,” Menjamurnya media elektronik dan media sosial di internet juga turut memengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia. Padahal, media elektronik seperti telepon genggam dan media sosial di internet merupakan media paling baik dan simpel untuk belajar bahasa Indonesia.

3.      Adanya Bahasa Alay
Adanya Bahasa alay sebenarnya bukan struktur bahasa baru dalam khazanah linguistic karena ilmu linguistic tidak mengenal kosakata ini. hanya saja bahasa alay berkembang berawal dari kreatifitas anak muda dalam memodifikasi atau meleburkan bahasa Indonesia kedalam bahasa yang menurut mereka sangat unik dan sesuatu yang baru, yaitu menggabungkan antara abjad-abjad dalam bahasa Indonesia  (unsure fonemis) dengan angka-angka yang menjelma menjadi bahasa tulis dan dapat dibaca walaupun secara ilmiah sama sekali tidak mengandung makna dan maksud (absurd). Tetapi bagi pengguna alay tulisan-tulisan itu dapat dimengerti dan mengandung maksud. Hal itu didasarkan karena pandangan mereka yang menganggap alay adalah sesuatu yang baru dalam berkomunikasi. Bahasa atau tulisan yang bisa mewakili jiwa muda penggunanya.
 Bahasa alay pun dalam perkembangannya tidak hanya dalam bentuk tulisan-tulisan semacam itu tetapi juga dalam singkatan-singkatan yang didalamnya angka-angka masih mendapat peran utama, misalnya, “5f” diartikan oleh kaum alay menjadi “maaf” atau “4u” yang kemudian diujarkan “for u” (untukmu=Bahasa Indonesia). “5x 9” diujarkan “sekali lagi”. “5sh” atau diujarkan “masih” dan masih banyak singkatan-singkatan lain yang unik. Singkatan ini juga tidak jauh berbeda dengan pengejaan tulisan alay diatas, sama sekali tidak mengandung maksud atau makna yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bahasa alay yang kerap digunakan antara lain dalam penulisan pesan singkat atau sms, dalam social media, yang kemudian dari kedua hal yang dekat dengan kehidupan tersebutlah telah menjadi kebiasaan. Sering kali kita temui dalam penulisan tugas sekolah, karya tulis, ataupun dalam tataran akademik lainnya, bahasa-bahasa tersebut digunakan padahal penulisan tersebut tidak diperkenankan. Bahasa-bahasa yang kerap ditemukan antara lain memiliki ciri sebagai berikut:
1.      Huruf yang digunakan tidak sesuai yaitu besar kecil, seperti : KaMu gI aPaH, SalAm, dan sebagainya
2.      Bahasa yang dipakai tidak sesuai dengan penulisan, seperti: CemuNguds ya QaQa, AkuH 9ak Bisa SmS.
3.      Tanda baca yang dipakai berlebihan dan tidak sesuai, seperti: CemuNguds ya QaQa,..!!
4.      Pengkombinasian huruf dan angka dalam membentuk rangkaian kata, seperti: 9ag, 5aff, kaMuh 5 caPah?, dan masih banyak hal janggal dalam penulisan yang tidak sesuai.

Penggunaan bahasa Indonesia Dikalangan Remaja ditengah Maraknya  bahasa Alay Akhir-akhir ini, Bahasa Indonesia banyak mengalami penambahan begitu banyak kosakata. Apakah datang dari bahasa daerah, dari bahasa gaul anak baru gede (ABG) seperti bahasa alay, atau bahkan yang datang dari luar Indonesia.  Banyak yang merasa prihatin dan menganggap kosakata baru tesebut merusak bahasa bakunya. Hal tersebut tentu saja sulit dielakkan mengingat teknologi informasi yang sudah sangat terbuka sekarang ini dan tentu saja aliran informasi yang “bersliweran” tersebut akan saling mempengaruhi. Terlepas merusak bahasa baku atau tidak, istilah dan kosakata baru (gaul) semakin memperkaya khasanah bahasa Indonesia.
Para pengguna Bahasa Indonesia harus mampu membedakan antara yang baku dan yang berkembang. Kita semua tahu bahwa bahasa Indonesia telah memiliki format yang baik dan benar. Namun tak bisa “dipungkiri”, akibat perubahan jaman yang begitu cepat melesat, munculah istilah-istilah baru. Entah siapa yang menciptakan dan mempopulerkan, tiba-tiba saja kita sering diperdengarkan oleh kosakata-kosakata yang tidak pernah kita dengar sebelumnya yang dikenal sebagai bahasa alay oleh kalangan remaja.
 Pengaruh bahasa alay yang dinilai negative terhadap bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
1.       Seringnya kaum muda menggunakan bahasa alay maka secara perlahan-lahan mereka akan meninggalkan bahasa Indonesia yang merupakan jiwa masyarakat Indonesia, bagian dari budaya, dan pemersatu bangsa Indonesia.
2.      Eksotisme alay yang telah merasuk pada pola pikir penggunaannya itu menawarkan daya tarik luar biasa dibandingkan bahasa Indonesia dan daya tarik inilah yang lantas menjadi tren baru dengan label gaul yang secara otomatis menggeser bahasa Indonesia sebagai bahasa satu seperti yang tertuang dalam sumpah pemuda. Bahasa satu disini tentunya bukan satu-satunya bahasa yang digunakan di Indonesia hanya saja bahasa satu ini adalah bahasa nasional.
3.      Jika terlalu lelapnya kaum muda menggunakan bahasa alay ini dalam media ponsel dan jejaring social secar psikologi akan terbawa kebiasaan itu  didalam kehidupan diluar dua hal tadi, sehingga akan mempengaruhi generasi muda yang lain yang belum mengerti tentang bahasa itu kecuali dari struktur seperti itu (mengikuti).
4.       Pengaruh paling besar adalah pelajaran Bahasa Indonesia disekolah dianggap pelajaran yang sangat mudah  dan paling mudah sehingga pembahasan mengenai materi bagaimana struktur morfem dan kalimat serta materi menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa terkesan disepelekan karena dalam keyakinan mereka secara psikologis bahasa alay lah yang paling bisa mewakili jiwamuda.

Namun dibalik pengaruh negative dari timbulnya bahasa alay terhadap bahasa Indonesia dikalangan remaja, juga mengandung pengaruh positif, antara lain :
1.      Bahasa alay umumnya digunakan sebagai alat komunikasi via ponsel atau jejaring social dan tidak digunakan dalam kegiatan-kegiatan formal seperti dalam diskusi, seminar, kegiatan belajar yang secara jelas merupakan kegiatan yang rentan terhadap aspek penggunaan kebahasaan yang formal.
2.      Bahasa alay dalam perkembangannya tidak akan bertahan lama dan berjangka panjang karena sifatnya yang mengikuti keadaan zaman yang berkembang pada masa itu , jadi pengaruhnya tidak begitu banyak dan luas karena eksistensi bahasa Indonesia , kecuali hanya sebuah kreatifitas (seni tulisan saja).
Dari dua hal diatas menunjukkan bahwa eksistensi bahasa alay sendiri bisa diredam , yang jelas selama eksistensi bahasa alay tidak masuk dalam tatanan kehidupan sehari-hari yang melibatkan aspek kebahasaan secara penuh,maka bahasa alay masih bisa diluruskan pada koridor bahasa Indonesia yang baik , benar, dan baku.
Dari segi fungsinya, bahasa dapat diartikan sebagai sarana yang digunakan manusia untuk mengekspresikan diri serta hal-hal yang ada dalam pikirannya untuk disampaikan kepada sesamanya sehingga mereka dapat bekerja sama dan saling memahami. Manusia melibatkan kecerdasan, akal budi, serta daya atau fungsi-fungsi kognitif yang terdapat dalam dirinya dalam menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Agar fungsi komunikatif ini terpenuhi, sebuah bahasa harus mengikuti kaidah-kaidah tertentu sebagai pengatur dalam hal gramatika dan pemakaian kata sehingga mudah dimengerti.
Dalam proses ini juga tersedia ruang yang cukup bagi kreatifitas yang memungkinkan bahasa mengalami perkembangan secara tak terbatas, sesuai dengan perkembangan pikiran dan nilai rasa manusia. Pergeseran makna kata serta bertambahnya kosakata suatu bahasa dari waktu ke waktu, adalah hasil dari proses perkembangan ini. Secara natural bahasa memang bukan merupakan sesuatu yang statis, akan tetapi pengembangannya seharusnya bersifat pengayaan, tidak liar, dan bukan justru merusak atau mengacaukan kaidah-kaidah yang telah membentuk tatanan kebahasaan yang selama ini sudah mapan dan diakui secara resmi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar